Aramco Cetak Rekor Laba, Sebut Ini Terkait Investasi Karbon

FILE PHOTO: Logo of Saudi Aramco is seen at the 20th Middle East Oil & Gas Show and Conference (MOES 2017) in Manama, Bahrain, March 7, 2017. REUTERS/Hamad I Mohammed/File Photo

Raksasa minyak yang dikendalikan negara Arab Saudi Aramco pada hari Minggu melaporkan rekor pendapatan bersih sebesar US$ 161,1 miliar atau setara dengan Rp 2.416,5 triliun (asumsi kurs Rp 15.000/US$) untuk tahun 2022. Capaian tersebut merupakan laba tahunan terbesar yang pernah dibukukan oleh perusahaan minyak dan gas.

Aramco mengatakan laba bersih meningkat 46,5% secara tahunan, dari US$ 110 miliar pada tahun 2021. Arus kas bebas juga mencapai rekor US$ 148,5 miliar (Rp 2.228 triliun) pada tahun 2022, dibandingkan dengan US$ 107,5 miliar pada tahun 2021.

“Ini mungkin pendapatan bersih tertinggi yang pernah tercatat di dunia usaha,” kata CEO Aramco Amin Nasser pada pengumuman kinerja keuangan hari Minggu (12/3).

Hasilnya hampir tiga kali lipat laba yang dibukukan perusahaan minyak ExxonMobil untuk tahun 2022, didukung oleh melonjaknya harga minyak dan gas sepanjang tahun lalu serta volume penjualan yang lebih tinggi dan margin yang lebih tinggi untuk produk kilang Timur Tengah.

Harga minyak dan gas melonjak pada awal tahun 2022, dengan sanksi Barat terhadap Rusia atas invasinya ke Ukraina terus memperketat akses ke pasokan Moskow.

Harga minyak sejak itu turun lebih dari 25% secara tahunan, dengan inflasi yang panas dan kenaikan suku bunga membayangi prospek permintaan yang lebih bullish dari China. Harga Brent dan WTI turun 6% minggu lalu saja. Brent terakhir diperdagangkan sekitar US$ 80 dolar per barel.

“Ini mungkin pendapatan bersih tertinggi yang pernah tercatat di dunia usaha,” kata CEO Aramco Amin Nasser pada pengumuman kinerja keuangan hari Minggu (12/3).

Hasilnya hampir tiga kali lipat laba yang dibukukan perusahaan minyak ExxonMobil untuk tahun 2022, didukung oleh melonjaknya harga minyak dan gas sepanjang tahun lalu serta volume penjualan yang lebih tinggi dan margin yang lebih tinggi untuk produk kilang Timur Tengah.

Harga minyak dan gas melonjak pada awal tahun 2022, dengan sanksi Barat terhadap Rusia atas invasinya ke Ukraina terus memperketat akses ke pasokan Moskow.

Harga minyak sejak itu turun lebih dari 25% secara tahunan, dengan inflasi yang panas dan kenaikan suku bunga membayangi prospek permintaan yang lebih bullish dari China. Harga Brent dan WTI turun 6% minggu lalu saja. Brent terakhir diperdagangkan sekitar US$ 80 dolar per barel.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*